IndonesiaKita

Sawit Untuk Indonesia

Apakah Mungkin Mempekerjakan Anak pada Perkebunan Sawit ?

Tuduhan bahwa perkebunan sawit mempekerjakan anak tidak berdasar dan tidak terbukti secara empiris

 

 “Mempekerjakan anak” adalah salah satu “persoalan besar” yang digunakan untuk menyalahkan Industri Sawit di Indonesia, khususnya perusahaan-perusahaan besar.  Tuduhan ini secara eksplisit dituangkan dalam “Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests” oleh Parlemen Eropa pada 3-6 April 2017 yang lalu.  Pihak Parlemen Eropa, tampaknya tidak punya bukti yang kuat, dan hanya bersumber pada Report yang masih harus diuji kebenarannya.  Tuduhan ini penting dan harus juga didukung dokumen riset empiris yang objektif.  Keraguan ini bisa saja akan mendorong Pihak Parlemen Eropa untuk melakukan studi yang cepat di Indonesia untuk membuktikan benar tidaknya kebenaran data itu.

Data empiris PASPI pada sejumlah riset yang telah dilakukan di Sentra sawit utama di Indonesia, antara lain di Provinsi Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat sejak tahun 2014-2016 tidak menemukan fenomena tersebut, baik pada perusahaan besar swasta, maupun pada perkebunan rakyat (smallholder).

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 68 menyebutkan bahwa Pengusaha dilarang mempekerjakan anak.   Batasan usia anak dalam hal ini adalah anak yang berumur antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun.  Disamping itu, secara khusus juga diatuur dalam UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002, bahwa yang disebutkan dengan “Mempekerjakan anak”, adalah menyuruh anak di bawah umur untuk bekerja secara paksa mulai dari pagi hingga sore hari tanpa memperdulikan akan kesejahteraan dan hak-hak anak.

Bagi anak yang berumur antara 13 tahun sampai dengan 15 tahun dapat melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial, dan diikuti dengan sejumlah persyaratan :

  1. izin tertulis dari orang tua atau wali;
  2. perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali;
  3. waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam;
  4. dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah;
  5. keselamatan dan kesehatan kerja;
  6. adanya hubungan kerja yang jelas; dan
  7. menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Disamping itu, anak yang telah berumur antara 15 s/d 18 tahun sudah dapat dipekerjakan (secara normal/umum) akan tetapi tidak boleh dieksploitasi untuk bekerja pada pekerjaan-pekerjaan yang membahayakan (the worst forms), (Pasal 74 UU Ketenagakerjaan) seperti :

  1. segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya;
  2. segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno, atau perjudian;
  3. segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya; dan/atau;
  4. semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak.

Jenis Pekerjaan yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Anak:

  1. Pekerjaan yang berhubungan dengan mesin, pesawat, Instalasi, dan peralatan lainnya;
  2. Pekerjaan yang dilakukan pada lingkungan kerja yang berbahaya (bahaya fisik, bahaya biologis, bahaya kimia);
  3. Pekerjaan yang mengandung sifat dan keadaan berbahaya tertentu:
  • Pekerjaan konstruksi bangunan, jembatan, irigasi atau jalan;
  • Pekerjaan yang dilakukan dalam perusahaan pengolahan kayu seperti penebangan, pengangkutan dan bongkar muat;
  • Pekerjaan mengangkat dan mengangkut secara manual beban di atas 12 kg untuk anak laki-laki dan di atas 10 kg untuk anak perempuan;
  • Pekerjaan dalam bangunan tempat kerja yang terkunci;
  • Pekerjaan penangkapan ikan yang dilakukan di lepas pantai atau di perairan laut dalam;
  • Pekerjaan yang dilakukan di daerah terisolir dan terpencil;
  • Pekerjaan di kapal;
  • Pekerjaan yang dilakukan dalam pembuangan dan pengolahan sampah atau daur ulang barang-barang bekas;
  • Pekerjaan yang dilakukan antara pukul 18.00 – 06.00.

Jenis-Jenis Pekerjaan yang Membahayakan Moral Anak

  •  Pekerjaan pada usaha bar, diskotik, karaoke, bola sodok, bioskop, panti pijat atau lokasi yang dapat dijadikan tempat prostitusi;
  • Pekerjaan sebagai model untuk promosi minuman keras, obat perangsang seksualitas dan/atau rokok.

Dari semua indikator yang disebutkan di atas, tidak ada satu pun yang relevan dalam industri perkebunan sawit di Indonesia, termasuk perusahaan perusahaan swasta besar di Indonesia.  Sifat pekerjaan on farm di perkebunan, pada umumnya sudah menggunankan mesin dan dioperasikan karyawan tetap.

Anak anak tidak ada yang dipekerjakan di perkebunan sawit, dan bahkan sebaliknya, pihak perkebunan sawit justru membangun fasilitas pendidikan dan menyekolahkan si anak.  Lokasi sekolah umumnya ada di dalam areal perkebunan itu sendiri.  Anak-anak bersekolah dan bermain di dalam areal perkebunan sawit. Anak anak berinterksi dengan ayah dan ibunya di areal perkebunan sawit. Bahkan rumah tinggalnya juga ada di dalam areal perkebunan sawit. Sehingga, apabila foto keberadaan anak-anak di antara pohon-poon sawit lalu dituduh bahwa Pengusaha mempekerjakan dan mengeksploitasi mereka, maka tuduhan itu sangat menyedihkan dan sama sekali tidak benar.   Apakah pengusaha mempekerjakan anak pada perkebunan sawit?  Jawabnya tidak terbukti secara empiris.

4,160 total views, 316 views today

« »

© 2017 IndonesiaKita. atd by maxx.