IndonesiaKita

Sawit Untuk Indonesia

Boikot Sawit Eropa Hentikan Deforestasi Dunia ?

Boikot sawit Eropa justru akan meningkatkan deforestasi dunia setidaknya 14 juta hektar. Ini tentu bertentangan dengan komitmen Eropa sendiri yang bermaksud mengurangi deforestasi dunia

Masyarakat Eropa merupakan salah satu pasar yang menggiurkan bagi eksportir minyak nabati dunia termasuk minyak sawit. Kebutuhan minyak nabati Eropa (Oil World, 2016) mencapai 25 juta ton setiap tahunnya. Sementara produksi minyak nabati Eropa (minyak rapeseed, bunga matahari) hanya mampu memasok sekitar 25 persen dari kebutuhan. Sisanya yakni 75 persen atau 19 juta ton dipenuhi dari impor. Dari 19 juta ton impor minyak nabati tersebut, terdapat sekitar 7 juta ton minyak sawit yang dipasok khususnya dari Indonesia dan Malaysia.

Parlemen Eropa 4 April 2017 yang lalu, mengeluarkan resolusi boikot minyak sawit yang tentunya membuat gerah negara eksportir minyak sawit termasuk Indonesia. Meskipun resolusi Parlemen Eropa tersebut belum mengikat (non-binding) yang implementasinya masih tergantung Badan Eksekutif Eropa, resolusi tersebut dinilai telah mengancam ekspor sawit andalan ekspor Indonesia ke Eropa.

Salah satu alasan resolusi sawit Eropa tersebut adalah kaitan minyak sawit dengan isu deforestasi. Dalam pandangan Eropa proses produksi minyak sawit terkait dan pemicu utama (driver) deforestasi. Sehingga, dengan melakukan boikot minyak sawit ke pasar Eropa, akan menekan atau menghentikan deforestasi dunia.

Benarkah dengan rencana boikot sawit Eropa merupakan solusi dan mampu menghentikan deforestasi dunia ? Mari kita lihat. Jika Eropa menghentikan impor minyak sawit, maka produksi minyak nabati Eropa harus dinaikkan sekitar 7 juta ton per tahun sebagai pengganti minyak sawit. Meningkatkan produksi minyak nabati sejumlah itu, memerlukan tambahan lahan untuk ekspansi kebun bunga matahari dan rapeseed Eropa setidaknya 14 juta hektar, karena produktivitasnya hanya sekitar 0,5 ton minyak per hektar. Luas kebun rapeseed dan bunga matahari Eropa harus naik lebih dari dua kali lipat yakni dari 12 juta hektar saat ini menjadi 26 juta hektar.

Ekspansi kebun rapeseed dan bunga matahari seluas itu hampir tidak mungkin lagi dilakukan Eropa kecuali dengan mengorbankan lahan pangan lainnya. Dapat dipastikan Eropa tidak akan mengorbankan lahan pangan karena akan beresiko pada terganggunya ketahanan pangan Eropa. Selain itu, ekspansi lahan pertanian minyak nabati Eropa berarti juga menambah subsidi pertanian yang justru sedang dikurangi karena terlalu membebani Eropa.

Mungkin dalam rencana Eropa, impor minyak sawit akan digantikan dengan memperbesar impor minyak kedelai khususnya dari Amerika Selatan. Ekspansi kebun kedelai Brazil dan Argentina yang merupakan produsen terbesar minyak kedelai dunia itu, memang masih memungkinkan termasuk memasok tambahan 7 juta ton minyak kedelai untuk Eropa.

Namun, untuk memenuhi tambahan pasokan minyak kedelai 7 juta ton tersebut bukan tanpa masalah bahkan menciptakan masalah baru. Dengan produktivitas 0,5 ton minyak per hektar, lahan kebun kedelai Brazil dan Argentina harus bertambah setidaknya 14 juta hektar, yakni dari sekitar 40 juta hektar saat ini menjadi 54 juta hektar. Sehingga jika jalan ekspansi kebun kedelai ditempuh, deforestasi hutan tropis di Brazil dan Argentina harus terjadi setidaknya seluas 14 juta hektar lagi.

Dengan kata lain, boikot sawit Eropa justru berpotensi meningkatkan deforestasi dunia setidaknya 14 juta hektar. Ini tentu bertentangan dengan kebijakan dan komitmen Eropa sendiri yang bermaksud mengurangi deforestasi dunia.

2,641 total views, 57 views today