IndonesiaKita

Sawit Untuk Indonesia

Resolusi Sawit Eropa Rugikan Eropa dan Picu Deforestasi Dunia

Kehadiran minyak sawit di EU sesungguhnya menjadi bagian solusi atas dilema pangan-energi-deforestasi  yang dihadapi EU. Jika impor minyak sawit dihentikan maka EU akan menghadapi banyak masalah seperti terganggunya ketahanan pangan, produksi biofuel turun, directive energi tak tercapai, emisi karbon naik,  deforestasi dunia meningkat dan pendapatan EU 9 Milyar Euro setiap tahun akan hilang

Rencana boikot sawit yang direkomendasikan Parlemen Uni Eropa menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat Eropa, mendorong inflasi pangan Eropa dan memicu peningkatan deforestasi dunia yang lebih besar.

Jika boikot sawit terjadi di pasar Eropa kerugian yang dialami masyarakat Eropa sungguh besar. Penelitian yang dilakukan Europe Economics yang berjudul Economic Impact of Palm Oil Import in the EU pada tahun 2014 lalu, mengungkap bahwa (1) setiap tahun EU mengimpor 6.4 juta ton minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Sekitar 40 persen yang diimpor tersebut digunakan untuk energi baik biodiesel maupun pembangkit listrik. Sedangkan sisanya yakni 60 persen digunakan untuk bahan pangan, bahan kosmetik dan toiletries. (2) penggunaan minyak sawit di Uni Eropa (EU) ternyata menciptakan “kue” ekonomi yang lumayan besar bagi EU setiap tahun. Selain menciptakan kesempatan kerja bagi 117 ribu orang, penggunaan minyak sawit pada 16 negara anggota EU menciptakan pendapatan sekitar 5.8 milyar Euro setiap tahun dalam Gross Domestic Product. Pemerintah EU juga kecipratan berupa penerimaan pajak sebesar 2.6 milyar Euro. Lima negara EU terbesar menikmati “kue” ekonomi tersebut adalah Itali, Spanyol, Jerman, Prancis, Belanda dan Finlandia. Kelima negara tebesar ini memiliki industri hilir yang menggunakan minyak sawit seperti industri oleokimia, industri oleopangan maupun industri biodiesel. Sehingga jika boikot minyak sawit benar-benar dilakukan Eropa, masyarakat Eropa akan kehilangan sekitar 9 milyar Euro setiap tahun dan menciptakan pengangguran setidaknya 117 ribu orang.

Selain kerugian ekonomi, target penurunan emisi karbon EU juga terancam tidak tercapai. Penggunaan minyak sawit untuk energi merupakan bagian dari arahan energi EU (Directive 2009/28/EC) yang menetapkan bahwa menuju tahun 2020 sekitar 20 persen dari energi konsumsi harus berasal dari energi terbaharui (renewable energy). Arahan energi tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG) EU sebagai kawasan tertinggi emisi GHG nya di dunia. Untuk memenuhi target arahan energi tersebut, EU memang harus mengimpor minyak nabati termasuk sawit. Produksi minyak nabati EU seperti minyak rape, minyak bunga matahari, jauh dari mencukupi karena sebagian besar digunakan untuk bahan pangan. Dengan kata lain, jika boikot minyak sawit terjadi maka program penggantian solar dengan biodiesel untuk menurunkan emisi karbon EU akan terganggu.

Jika Parlemen Eropa bermaksud menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati Eropa seperti rapeseed/canola dan bunga matahari, maka taruhannya adalah ketahanan pangan Eropa. Negara-negara EU saat ini menghadapi dilema pangan-energi (trade-off food-fuel). Untuk mengurangi emisi GHG harus menurunkan konsumsi BBM fosil dan diganti dengan biofuel. Sementara untuk produksi biofuel rebutan dengan pangan. OECD (2006) memperkirakan jika 10 persen saja konsumsi BBM fosil diganti biofuel, maka EU harus mengkonversi 70 persen lahan pertaniannya untuk tanaman minyak nabati. Jika 6 juta ton CPO tidak masuk ke EU maka areal tanaman rapeseed dan bunga matahari di EU harus tambah sekitar 14 juta hektar. Artinya penggantian minyak sawit dengan minyak nabati Eropa akan mengancam ketahanan pangan EU.

Mungkin Parlemen Eropa berfikir seperti logika ekonomi sepak bola EU yang banyak mengimpor pemain bola dari Amerika Selatan. Pengganti impor CPO ditutupi dengan impor minyak kedelai yang lebih besar dari Brazil, Argentina dan negara sekitarnya. Jika impor sawit diganti dengan impor kedelai dari Amerika Selatan akan memacu deforestasi hutan setidaknya 14 juta hektar lagi untuk tambahan ekspansi kebun kedelai.

Dengan kata lain, kehadiran minyak sawit di EU sesungguhnya menjadi bagian solusi atas dilema pangan-energi-deforestasi  yang dihadapi EU. Jika impor minyak sawit dihentikan maka EU akan menghadapi banyak masalah seperti terganggunya ketahanan pangan, produksi biofuel turun, directive energi tak tercapai, emisi karbon naik,  deforestasi dunia meningkat dan “kue” ekonomi minyak sawit yang dinikmati selama ini akan hilang.

2,602 total views, 146 views today

« »

© 2017 IndonesiaKita. atd by maxx.