Simbiosis Mutualis Ekonomi-Ekologis dalam Restorasi Sawit Gambut

BRG diharapkan melahirkan  suatu  rekomendasi cara berkebun sawit di lahan gambut yang mensimbiosis secara mutualis antara kepentingan sosial, ekonomi dan ekologis secara inklusif dan berkelanjutan

 

Lahan gambut terbentuk dari pelapukan alamiah  bahan-bahan organik dari tumbuh-tumbuhan. Karena dibentuk oleh bahan organik, maka daya serap air gambut sangat tinggi, sehingga secara ekologis gambut menjadi penyimpan air yang sangat besar.

Dari proses pembentukan (genesis) lahan gambut tersebut dapat mengilhami atau menuntun kita dalam mengelola dan memanfaatkan lahan gambut, bahwa pengelolaan tanaman merupakan komponen penting dalam pelestarian lahan gambut. Pertanian/perkebunan yang dikelola secara ekofarming merupakan bagian penting dari pelestarian lahan gambut.

Karena karakteristik lahan gambut berbeda dengan lahan mineral maka cara bertani di lahan gambut tentu berbeda dengan cara bertani di lahan mineral. Kebiasaan atau cara bertani di lahan mineral tidak begitu saja dapat diterapkan pada lahan gambut. Juga, cara bertani di lahan gambut tidak sama dengan cara bertani di lahan sawah. Cara bertani di lahan gambut memiliki cara dan seni sendiri, yang pada prinsipnya bagaimana mempertahankan karakteristik alamiah lahan gambut.

Secara ekofisiologis tanaman termasuk tanaman sawit dianugrahi mekanisme sebagai bagian pelestarian lahan gambut dan ekosistem secara keseluruhan. Kemampuan kebun sawit yang menghasilkan bahan organik 5 kali dari produksi minyak, secara logika dapat menambah bahan organik lahan gambut setiap tahun yang merupakan bagian penting pedestarian lahan gambut. Sistem perakaran tanaman sawit yang memiliki biopori yang berfungsi mengikat air juga sangat sesuai dengan kebutuhan pelestarian lahan gambut.

Ketertinggalan pengembangan teknologi dan manajemen pertanian lahan gambut selama ini, telah membuat pertanian/perkebunan yang seharusnya menjadi solusi pada pelestarian lahan gambut sebagaimana dikemukakan diatas, dalam praktiknya diberbagai tempat sering berpotensi mengancam pelestarian lahan gambut itu sendiri. Pelestarian lahan gambut bukanlah persoalan pilihan jenis tanaman melainkan persoalan teknologi dan manajemen atau cara bertani di lahan gambut Sehingga pelarangan kebun sawit di lahan gambut bukanlah solusi melainkan menciptakan masalah baru.

Kehadiran Badan Restorasi Gambut (BRG) yang saat ini sedang mengimplementasikan pelestarian lahan gambut diharapkan menghasilkan rekomendasi teknologi dan manajemen ecofarming kebun sawit. BRG dapat mengorganisir para ahli-ahli terkait seperti ahli-ahli dari PPKS, litbang dan Perguruan Tinggi, agar ditemukan cara bertani kebun sawit yang ecofarming. Dengan membangun percontohan pengelolaan kebun sawit gambut ekofaming (ecofarming model) yang mensimbiosis secara mutualis antara kepentingan ekonomi dan ekologis secara berkelanjutan, dapat menjadi tempat belajar dari para petani/pelaku kebun sawit, para mahasiswa, peneliti dan pemerintah daerah.

Publik sangat berharap BRG dapat melahirkan rekomendasi teknologi dan manajamen berkebun sawit di lahan gambut. Suatu rekomendasi cara berkebun sawit dilahan gambut yang mensimbiosis secara mutualis antara kepentingan sosial, ekonomi dan ekologis secara inklusif dan berkelanjutan. Rekomendasi yang demikian sesuai dengan Jokowinomics yang menghadirkan solusi dan bukan bagian dari masalah bagi pembangunan.

938 total views, 29 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *